Kamis, 17 Februari 2011

Kecerdasan Interpersonal

I.PENDAHULUAN
Telah lama orang beranggapan bahwa IQ (intelegence quotient) merupakan penentu kesuksesan belajar dan hidup seseorang. Bila tinggi IQ, maka orang itu akan sukses dalam belajar dan akhirnya akan sukses dalam kehidupannya yang nyata. Ternyata pernyataan itu tidak selamanya benar. Ada banyak ornag yang ber IQ tinggi, tetapi gagal dalam hidupnya. Maka, disadari bahwa walaupun IQ sangat penting, tetapi itu bukanlah penentu utama. Sekarang ditentuka pentingnya emosional quotient (EQ) dan spiritual quotient (SQ). Kemampuan emosional dan spiritual harus diperhatikan dalam kehidupan agar seseorang dapat berhasil.
Howard Gardner, seorang professor pendidikan dan psikologi dari Harvard University, Amerika Serikat, yang berminat pada bidang pendidikan, cukup lama mengkritisi IQ. Menurut Gardner, dalam pengukuran IQ hanya ditekankan intelegensi matematis-logis dan linguistic, padahal ia menemukan minimal ada sembilan intelegensi (intelegensi ganda atau multiple intelligences). Kesembilan inteligensi itu semuanya berperan dalam keberhasilan hidup seseorang. Itulah sebabnya orang yang ber IQ tinggi belum tentu sukses dalam hidup. Kesembilan inteligensi itu perlu diperhatikan dalam membantu seseorang untuk berkembang dan sukses dalam hidup ini.
Banyak guru mengajar sesuai dengan inteligensi yang menonjol yang ia punya. Namun inteligensi yang menonjol pada guru seringkali berbeda dengan inteligensi yang dimiliki siswa sehingga seringkali pengajaran guru tidak mengena dan tidak membantu siswa mengerti lebih dalam.
Dalam makalah ini kami akan membahas kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal,berikut ini akan di bahas tentang apa itu kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal.


II. KECERDASAN INTERPERSONAL
Definisi Kecerdasan Interpersonal
Kecerdasan interpersonal atau bisa dikatakan juga sebagai kecerdasan sosial, diartikan sebagai kemampuan dan keterampilan seseorang dalam menciptakan relasi, membangun relasi dan mempertahankan relasi sosialnya sehingga kedua belah pihak berada dalam situasi menang-menang atau menguntungkan.
Sumber lain mendefinisikan bahwa Kecerdasan Interpersonal adalah kemampuan berfikir lewat berkomunikasi dengan orang lain.
Inteligensi Interpersonal adalah kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intense, motivasi, watak, temperament orang lain. Kepekaan akan ekspresi wajah, suara. Isyarat dari orang lain juga masuk dalam inteligensi ini.
Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang disekitar kita, kecerdasan ini adalah kemampuan kita untuk memahami dan memperkirakan perasaan, temperamen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain dan menanggapinya secara layak. Kecerdasan Sosial merujuk pada spectrum yang merentang dari secara instan merasa keadaan batiniah orang lain sampai memahami perasaan dan pikirannya. Orang yang kuat dalam inteligensi interpersonal biasanya sangat mudah bekerjasama dengan orang lain, mudah berkomunikasi dengan orang lain. Hubungan dengan orang lain bagi mereka menyenangkan dan sepertinya keluar begitu saja secara otomatis. Mereka dengan mudah mengenali dan membedakan perasaan serta apa yang dialami teman dan orang lain. Komunikasi baik verbal maupun non verbal dengan orang lain relative mudah.Kebanyakan orang sangat peka terhadap teman, terhadap penderitaan orang lain, dan mudah berempati. Banyak dari mereka suka memberikan masukan kepada teman supaya maju. Maka, mereka kebanyakan dapat berperan sebagai komunikator, sebagai fasilitator dalam pertemuan atau perbincangan masalah yang penting. Mereka juga dengan mudah menjadi penggerak massa karena kemampuannya mendekati massa. Bila menjadi pemimpin, orang ini biasanya disukai karena pendekatannya yang baik kepada para anggota, mengerti dan menghargai perasaan orang lain. Orang-orang seperti Mahatma Gandhi (tokoh penggerak kedamaian dan kebebasan India), Ronald Reagan (presiden AS yang mantan actor), Ibu Theresa (pejuang kaum miskin) kadang dikelompokkan sebagai yang mempunyai inteligensi interpersonal tinggi.
Siswa yang mempunyai inteligensi interpersonal tinggi mudah bergaul dan berteman. Meskipun sebagai orang baru dalam suatu kelas atau sekolah, ia dengan cepat dapat masuk ke dalam kelompok. Ia mudah berkomunikasi dan mengumpulkan teman lain. Bila dilepas seorang diri, ia akan dengan cepat mencari teman. Dalam konteks belajar, ia lebih suka belajar bersama orang lain, lebih suka mengadakan studi kelompok. Siswa ini kadang mudah berempati dengan teman yang sakit atau punya masalah dan kadang mudah untuk ikut membantu. Dalam suatu kelas, bila guru memberikan pekerjaan atau tugas secara bebas, siswa-siswa yang mempunyai inteligensi interpersonal akan dengan cepat berdiri dan mencari teman yang mau diajak kerjasama.
II.1 DIMENSI-DIMENSI KECERDASAN INTERPERSONAL
Kecerdasan Interpersonal ini mempunyai tiga dimensi utama, yaitu
a) social sensitivity,
b) social insight, dan
c) social communication (Anderson, 1999).
Perlu di ingat bahwa ketiga dimensi tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan ketiganya saling mengisi satu sama lainnya.
Kecerdasan interpersonal ini merupakan kecerdasan yang lebih bersifat cristalized menurut konsep yang dikemukakan oleh Cattel (Azwar, 1973).
Berikut ini tiga dimensi kecerdasan interpersonal :
a. social sensitivity (sensitivitas sosial). Kemampuan untuk mampu merasakan dan mengamati reaksi-reaksi atau perubahan orang lain yang ditunjukkannya baik secara verbal maupun non verbal. Anak yang memiliki sensivitas yang tinggi akan mudah memahami dan menyadari adanya reaksi-reaksi tertentu dari orang lain, entah reaksi tersebut positif ataupun negatif.
b. social insight Kemampuan seseorang untuk memahami dan mencari pemecahan masalah yang efektif dalam satu interaksi sosial, sehingga masalah-masalah tersebut tidak menghambat apalagi menghancurkan relasi sosial yang telah di bangun. Di dalamnya juga terdapat kemampuan dalam memahami situasi sosial dan etika sosial sehingga anak mampu menyesuaikan dirinya dengan situasi tersebut. Fondasi dasar dari social insight ini adalah berkembangnya kesadaran diri anak secara baik. Kesadaran diri yang berkembang ini akan membuat anak mampu memahami keadaan dirinya baik keadaan internal maupun eksternal seperti menyadari emosi-emosinya yang sedang muncul, atau menyadari penampilan cara berpakaiannya sendiri, cara berbicaranya dan intonasi suaranya.
c. social communication Penguasaan keterampilan komunikasi sosial merupakan kemampuan individu untuk menggunakan proses komunikasi dalam menjalin dan membangun hubungan interpersonal yang sehat. Dalam proses menciptakan, membangun dan mempertahankan relasi sosial, maka seseorang membutuhkan sarananya. Tentu saja sarana yang digunakan adalah melalui proses komunikasi, yang mencakup baik komunikasi verbal, non verbal maupun komunikasi melalui penampilan fisik. Keterampilan komunikasi yang yang harus dikuasai adalah keterampilan mendengarkan afektif, keterampilan berbicara efektif, keterampilan public speaking dan keterampilan menulis secara efektif (Anderson, 1999).
II.2 KARAKTERISTIK KECERDASAN INTERPERSONAL
Karakteristik anak yang memiliki kecerdasan interpersoanal yang tinggi yaitu:
a. Mampu mengembangkan dan menciptakan relasi sosial baru secara efektif, Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara total,
b. Mampu mempertahankan relasi sosialnya secara efektif sehingga tidak musnah dimakan waktu dan senantiasa berkembang semakin intim/mendalam/penuh makna
c. Mampu menyadari komunikasi verbal maupun non verbal yang dimunculkan orang lain, atau dengan kata lain sensitive terhadap perubahan sosial dan tuntutan-tuntutannya.
d. Mampu memecahkan masalah yang terjadi dalam relasi sosialnya dengan pendekatan win-win solution serta yang paling penting adalah mencegah munculnya masalah dalam relasi sosialnya
e. Memiliki keterampilan komunikasi yang mencakup keterampilan mendengarkan efektif, berbicara efektif dan menulis secara efektif. Termasuk di dalamnya mampu menampilkan penampilan fisik yang sesuai dengan tuntutan lingkungan sosialnya.

II.3 KECERDASAN INTERPERSONAL SEORANG GURU
Seorang guru ketika mengajar siswanya tidak cukup bermodalkan kecerdasan Intelektual (IQ) semata, tetapi harus disertai dengan kecerdasan emosional (EQ). Salah satu jenis kecerdasan emosional adalah kecerdasan interpersonal.Sebagaimana disebutkan oleh Howard Gardner salah satunya mengenai kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan seseorang untuk mengamati dan mengerti maksud,motivasi,dan perasaan orang lain, dapat bergaul dengan siapapun karena memiliki kepekaan terhadap ekspresi wajah,suara dan gerak tubuh orang lain, mampu memberikan respon yang positif dan efektif dalam berkomunikasi, mampu membaca situasi dan kondisi, sehingga bisa menempatkan diri dan mudah beradaptasi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.Di antara kiat untuk menjalin komunikasi yang baik dengan siswa, hendaknya guru berpegang kepada 4S, yaitu salam, senyum, sapa, dan sabar.
a. Salam.Ketika guru masuk ke kelas, sebaiknya ucapkan salam terlebih dahulu. Guru mendahului mengucapkan slam kepada para siswanya akan menumbuhkan rasa hormat dan simpati para siswa karena mereka merasa terlehih dahulu dihormati dan didoakan.
b. Senyum.Setelah mengucapka senyum, hendaknya guru menebarkan senyum yang tulus kepada para siswa yang duduk di bangku sambil menatap wajah para siswanya dengan penuh kasih saying. Hindari sikap muram,kaku dan ketus terhadap para siswa walaupun banyak masalah yang sedang dihadapi. Apalagi kejengkelan atau kekesalan hati karena ada masalah keluarga dilampiaskan kepada para siswa dengan bermuka muram dan marah, sungguh tindakan yang tidak mendidik berdampak negative terhadap psikologis siswa.
c. Sapa.Sebelum menyampaikan materi pelajaran , di awal pertemuan luangkanlah waktu sebentar untuk menyapa para siswa. Misalnya, menanyakan siapa temannya yang tidak hadir, atau menanyakan siapa diantara mereka yang kurang sehat, lapar, ngantuk dan sebagainya. Tujuannya agar para siswa merasa diperhatikan oleh gurunya. Sikap empati guru terhadap kondisi para siswa akan menumbuhkan rasa simpati para siswa terhadap gurunya.
d. Sabar.Puluhan siswa dalam satu kelas, bahkan ratusan siswa dalam satu sekolah yang dihadapi guru ketika kegiatan belajar mengajar, memiliki karakter, watak, bakat , minat dan masalah yang variatif. Hal ini disebabkan perbedaan factor biologis, psikologis,intelegensi,bakat,minat,emosi,masalah dan latar belakang lingkungan keluarga dan masyarakat. Keadaan seperti ini menuntut kesabaran yang tinggi dari guru, terutama ketika menghadapi siswa yang mengalami kesulitas belajar atau siswa yang berkebutuhan khusus. Kejengkelan dan rasa marah akan mudah muncul ketika guru menghadapi situasi seperti ini.
Agar guru memiliki kecerdasan interpersonal, maka guru harus mencintai profesinya. Menjadi guru benar-benar karena panggilan jiwa, bukan karena terpaksa. Berniat ikhlas untuk menebarkan ilmu dan kebaikan kepada para siswa bukan sekedar ingin mendapat gaji atau penghasilan.


Daftar Pustaka
tizarrahmawan.wordpress.com
www.ayahbunda.co.id
Suparno,Paul;Kanisius 2004;Teori Intelegensi Ganda dan aplikasinya di sekolah
Megawangi,Ratna,Dr.; Character Parenting Space;Mizan 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar