Sabtu, 04 Juni 2011

TUNA GRAHITA

TUNA GRAHITA
BAB I
I. PENDAHULUAN
Anak-anak luar biasa adalah sebutan yang diberikan pada anak-anak yang memerlukan kebutuhan khusus.Anak-anak luar biasa didefinisikan sebagai anak-anak yang berbeda dari anak-anak biasa dalam hal ciri-ciri mental, kemampuan sensorik, kemampuan komunikasi, tingkah laku sosial, ataupun ciri-ciri fisik.
Masih kurangnya pemerimaan terhadap anak-anak tuna grahita dalam kehidupan bermasyarakat, menjadikan mereka tersisihkan dari hak-hak mereka sebagai salah satu seorang pelakonnya. Terkadang kita menilai orang yang memiliki kelainan fisik dan mental itu” aneh” dan mengurus mereka serba diselimuti dengan kubutuhan khusus.. Sehingga anak-anak yang memiliki kelainan itu (masih) sangat sulit untuk menikmati setiap piranti kehidupan, yang semestinya sebagai seorang anak manusia layak merasakan. Mulai dari akses kesehatan,informasi, pendidikan, transfortasi sampai dengan lapangan kerja.
Anak-anak tuna grahita, kerapkali dianggap tidak memiliki nilai, peran dan fungsi dalam kehidupan. Hal ini disebabkan tidak semua dari mereka yang mampu beraktifitas, jangankan bersaing,untuk hidup mandiripun mereka menghadapi kendala.Kondisi ini kemudian diterjemahkan sebagian orang sebagai beban kehidupan alias seseorang yang keberadaannya dianggap menambah persoalan orang-orang di sekitarnya.
Semua orang tua pasti menginginkan anaknya terlahir normal,sempurna fisik dan mentalnya. Tapi mengapa ada anak yang terlahir dengan kelainan dalam dua aspek tersebut? Allah menurunkan makhluknya dalam kondisi berbeda. Namun dibalik itu mengandung maksud, bahwa yang berada dalam tensi kurang atau lemah menjadi tanggungan yang berada dalam tensi normal atau full energy artinya anak/orang yang tidak sempurna fisik atau mentalnya ditolong oleh yang normal, sehingga saling menyempurnakan. Karena sempurna menurut ukuran manusia belum tentu sempurna dimata sang pencipta. Allah tidaklah menciptakan sesuatu untuk disia-siakan karena tiap-tiap ciptaan Allah memiliki peran masing-masing yang terkadang manusia tidak mengetahuinya.
Anak tuna grahita memiliki fungsi intelektual tidak statis. Kelompok tertentu, termasuk beberapa dari down syndrom, memiliki kelainan fisik dibanding teman-temannya, tetapi mayoritas dari anak tuna grahita terutama yang tergolong ringan, terlihat sama seperti yang lainnya. Dari kebanyakan kasus banyak anak tuna grahita terdeteksi setelah masuk sekolah. Tes IQ mungkin bisa dijadikan indikator dari kemampuan mental seseorang. Kemampuan adaptif seseorang tidak selamanya tercermin pada hasil tes IQ. Latihan, pengalaman, motivasi, dan lingkungan sosial sangat besar pengaruhnya pada kemampuan adaptif seseorang.
Sebelum 1959 anak-anak yang tergolong Tuna Grahita akan dimasukkan ke dalam institusi yang amat membatasi perkembangan mereka. Biasanya bila mereka telah memasuki institusi tersebut anak tidak akan mengalami perkembangan-perkembangan yang memuaskan. Pendidikannya pun amat terbatas sehingga kemampuannya tidak berkembang.
Setelah tahun 1959 mengenai hak asasi manusia berubah maka pandangan mengenai hak asasi anak Tuna Grahita berubah. Ini tampil dalam cara penanganan anak Tuna Grahita. Bersamaan dengan itu semenjak tahun 1959 dengan berkembangnya konsep–konsep behavioral berkembang pula teknik-teknik pengajaran yang dilandasi oleh prinsip-prinsip belajar tersebut. Khusus untuk anak Tuna Grahita berkembang pula metode Analisa Tingkah Laku, Analisa Instruksional , Analisa Tugas, dan lain sebagainya yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan tingkah la-kunya.
Selain metode-metode belajar yang dikhususkan bagi anak Tuna Grahita mereka juga diperkenalkan pada kehidupan diluar institusi. Mereka juga dilatih untuk mengembangkan tingkah laku adaptif melalui metode-metode belajar yang lebih spesifik. Konsep-konsep behavior itu juga dikembangkannya model bengkel kerja yang khusus. Di Indonesia, sekolah-sekolah luar biasa C untuk anak-anak Tuna Grahita sudah didirikan semenjak tahun 1950an dan hingga kini jumlahnya semakin banyak. Seluruh sekolah luar biasa itu pengelolaannya diserahkan pada swasta. Pemerintah hanya memberikan garis–garis besar pendidikan berdasarkan pendidikan umum, tidak disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak luar biasa C. Sehingga tujuan pengembangan pendidikan untuk mengembangkan anak luar biasa C agar mengembangkan tingkah lakunya kurang jelas.


BAB II
II. PENGERTIAN TUNA GRAHITA
II.1 Pengertian Tuna Grahita
Tunagrahita merupakan kata lain dari Retardasi Mental (mental retardation). Tuna berarti merugi.Grahita berarti pikiran. Retardasi Mental (Mental Retardation/Mentally Retarded) berarti terbelakang mental. Yang dimaksud dengan Tuna Grahita adalah keterbatasan substansial dalam memfungsikan diri. Keterbatasan ini ditandai dengan terbatasnya kemampuan fungsi kecerdasan yang terletak dibawah rata-rata (IQ 70 atau kurang) dan ditandai dengan terbatasnya kemampuan tingkah laku adaptif minimal di 2 area atau lebih. (tingkah laku adaptif berupa ke-mampuan komunikasi, merawat diri, menyesuaikan dalam kehidupan rumah, ketrampilan so-sial, pemanfaatan sarana umum, mengarahkan diri sendiri, area kesehatan dan keamanan, fungsi akademik, pengisian waktu luang,dan kerja) Disebut Tuna Grahita bila manifestasinya terjadi pada usia dibawah 18 tahun. Berdasarkan klasifikasi AAMR, maka Tuna Grahita ini bisa di golongkan sebagai berikut.:
1. Golongan Tuna Grahita yang ringan yaitu mereka yang masih bisa dididik pada masa dewasanya kelak, usia mental yang bisa mereka capai setara dengan anak usia 8 tahun hingga usia 10 tahun 9 bulan. Dengan rentang IQ antara 55 hingga 69. Pada usia 1 hingga 5 tahun, mereka sulit dibedakan dari anak-anak normal, sp ketika mereka menjadi besar. Biasanya mampu mengembangkan ketrampilan komunikasi dan mampu mengembangkan ketrampilan sosial. Kadang-kadang pada usia dibawah 5 tahun mereka menunjukkan sedikit kesulitan sensorimotor.Pada usia 6 hingga 21 tahun, mereka masih bisa mempelajari ketrampilan- ketrampilan akademik hingga kelas 6 SD pada akhir usia remaja, pada umumnya sulit mengikuti pendidikan lanjutan, memerlukan pendidikan khusus.
2. Tuna Grahita golongan moderate, masih bisa dilatih (mampu latih).Kecerdasannya terletak sekitar 40 hingga 51, pada usia dewasa usia mentalnya setara anak usia 5 tahun 7 bulan hingga 8 tahun 2 bulanBiasanya antara usia 1 hingga usia 5 tahun mereka bisa berbicara atau bisa belajar berkomunikasi, memiliki kesadaran sosial yang buruk,perkembangan motor yang tidak terlalu baik, bisa diajari untuk merawat diri sendiri, dan bisa mengelola dirinya dengan supervivi dari orang dewasa.Pada akhir usia remaja dia bisa menyelesaikan pendidikan hingga setarakelas 4 SD bila diajarkan secara khusus .
3. Tuna Grahita yang tergolong parah, atau yang sering disebut sebagai Tuna Grahita yang mampu latih tapi tergantung pada orang lain. Rentang IQnya terletak antara 25 hingga 39. Pada masa dewasanya dia memiliki usia mental setara anak usia 3 tahun 2 bulan hingga 5 tahun 6 bulan. Biasanya perkembangan motoriknya buruk, bicaranya amat minim, biasanya sulit dilatih agar bisa merawat diri sendiri (harus dibantu), seringkali tidak memiliki ketrampilan berkomunikasi
Tuna grahita sering disepadankan dengan istilah-istilah, sebagai berikut:
1. Lemah fikiran ( feeble-minded);
2. Terbelakang mental (Mentally Retarded);
3. Bodoh atau dungu (Idiot);
4. Pandir (Imbecile);
5. Tolol (moron);
6. Oligofrenia (Oligophrenia);
7. Mampu Didik (Educable);
8. Mampu Latih (Trainable);
9. Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau Butuh Rawat;
10. Mental Subnormal;
11. Defisit Mental;
12. Defisit Kognitif;
13. Cacat Mental;
14. Defisiensi Mental;
15. Gangguan Intelektual
Kata Mental dalam peristilahan di atas adalah fungsi kecerdasan intelektual, dan bukan kondisi psikologis.
American Asociation on Mental Deficiency/AAMD dalam B3PTKSM, (p. 20), mendefinisian Tuna grahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (Sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes; yang muncul sebelum usia 16 tahun; yang menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif. Sedangkan pengertian Tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22) sebagai berikut: Fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes inteligensi baku.Kekurangan dalam perilaku adaptif. Terjadi pada masa perkembangan, yaitu anatara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. Pengklasifikasian/penggolongan Anak Tunagrahita untuk keperluan pembelajaran menurut American Association on Mental Retardation dalam Special Education in Ontario Schools (p. 100) sebagai berikut: 1. EDUCABLE Anak pada kelompok ini masih mempunyai kemampuan dalam akademik setara dengan anak reguler pada kelas 5 Sekolah dasar.
Karakteristik anak tuna grahita :
1. Lamban dalam mempelajari hal-hal yang baru
2. Kesulitan dalam mengeneralisasi dan mempelajari hal-hal yang baru.
3. kemampuan bicaranya sangat kurang bagi anak tuna grahita berat.
4. Cacat fisik dan perkembangan gerak.
5. Kurang dalam kemampuan menolong diri sendiri..
6. Tingkah laku dan interaksi yang tidak lazim.
7. Tingkah laku kurang wajar dan terus menerus.
Selain klasifikasi di atas, adapula pengelompokan berdasarkan kelainan jasmani yang disebut tipe klinis. Tipe-tipe klinis yang dimaksud adalah sebagai berikut :
1. Down Syndrome (Mongoloid). Anak tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai orang Mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar, telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik.
2. Kretin (Cebol). Anak ini memperlihatkan cirri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan pendek dan bengkok, kulit kering,tebal dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir, kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi terlambat.
3. Hydrocephal. Anak ini emiliki cirri-ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.
4. Microcephal. Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil.
5. Macrocephal. Memiliki ukuran kepala yang besar dari ukuran normal.

II.2 PENYEBAB TUNA GRAHITA
Terdapat banyak penyebab tuna grahita, seperti penyakit yang diderita semasa kehamilan, kerusakan dalam metabolism, penyakit pada otak atau kromosom yang abnormal, factor lingkun-gan, pola makan yang tidka baik, dan perawatan yang tidak sesuai. Laporan Organisasi Keseha-tan Dunia (WHO) memaparkan bahwa 30 % dari anak-anak yang tuna grahita serius disebabkan oleh ketidaknormalan genetic, sepeerti down sydrom,25% disebabkan oleh celebral palsy, 30% disebabkan oleh meningitis dan masalah prenatal, sedangkan 15% sisanya belum didapatkan penyebabnya.
Grossman (1983) memaparkan ( factor yang menjadi penyebab timbulnya cacat mental :
1. Penyakit yang disebabkan minuman keras.
2. Trauma
3. Metabolisme atau pola makan yang tidak baik
4. Penyakit dalam otak
5. Pengaruh saat masa kehamilan yang tidak diketahui
6. Kromoson yang abnormal
7. Gangguan semasa kehamilan
8. Gangguan Psikiatris
9. Pengaruh Lingkungan
Berikut ini akan dibahas beberapa penyebab ketunagrahitaan yang sering ditemukan baik yang berasal dari factor keturunan maupun faktor lingkungan.
1) Faktor Keturunan. Penyebab kelainan yang berkaitan dengan factor keturunan, meliputi hal-hal berikut:
a. Kelainan kromosom, dapat dilihat dari bentuk dan nomornya. Dilihat dari bentuknya dapat berupa inverse (kelainan yang menyebabkan berubahnya unsure gene karena melilitnya kromosom; delesi (kegagalan meiosis, yaitu salah satu pasangan tidak membelah sehingga terjadi kekurangan kromosom pada salah satu sel); (kromosom tidak berhasil memisahkan diri sehingga terjadi kelebihan kromosom pada salah satu sel yang lain); translokasi ( adanya kromosom yang patah dan patahannya menempel pada kromosom lain).
b. Kelainan Gene.Kelainan ini terjadi pada waktu mutasi, tidak selamanya tampak dari luar (tetap dalam tingkat genotif). Ada 2 hal yang perlu diperhatikan untuk memahaminya, yaitu kekuatan kelainan tersebut dan tempat gena (locus) yang mendapat kelainan.
2) Gangguan metabolisme dan gizi. Metabolisme dan gizi merupakan factor yang sangat penting dalam pengembangan individu terutama perkembangan sel-sel otak. Kegagaglan metabolism dan kegagalan pemenuhan kebutuhan gizi dapat mengakibatkan terjadinya gangguan fisik dan mental pada individu. Kelainan yang disebabkan kegagalan metabolism dan gizi antara lain phenylketonuria (akibat gangguan metabolism asam amino) dengan gejala yang Nampak berupa: tunagrahita, kekurangan pigmen, kejang saraf, kelainan tingkah laku;gargolysm (kerusakan metabolism saccharide yang menjadi tempat penyimpanan asam mucopolysaccharide dalam hati, limpa kecil dan otak) dengan gejala yang Nampak berupa ketidak normalan tinggi badan, kerangka tubuh yang tidak proporsional, telapak tangan klebar dan pendek, persendian kaku, lidah lebar dan menonjol, dan tunagrahita; cretinism (keadaan hypohydroidism kronik yang terjadi selama masa janin dan saat dilahirkan) dengan gejala kelainan yang tampak adalah ketidaknormalan fisik yang khas dan ketunagrahitaan.
3) Infeksi dan keracunan. Keadaan ini disebabkan oleh terjangkitnya penyakit-penyakit selama janin masih berada dalam kandungan. Penyakit yang dimaksud, yaitu rubella yang mengaki-batkan ketunagrahitaan serta adanya kelainan pendenganran, penyakit jantung bawaan, berta badan sangat kurang ketika lahir, syphilis bawaan, syndrome gravidity beracun, hamper pada semua kasus berakibat ketunagrahitaan.
4) Trauma dan zat radioaktif. Terjadinya trauma terutama pada otak ketika bayi dilahirkan atau terkena radiasi zat radioaktif saat hamil dapat mengakibatkan ketunagrahitaan. Trauma yang terjadi pada saat dilahirkan biasanya disebabkan kelahiran yang sulit sehingga memerlukan alat bantu. Ketidaktepatan penyinaran atau radiasi sinar X selama bayi dalam kandungan mengakibatkan cacat mental microsephaly.
5) Maslah pada kelahiran. Maslah yang terjadi pada saat kelahiran, misalnya kelahiran yang disertai hyposis yang dipastikan bayi akan menderita karusakan otak, kejang,dan nafas pendek. Kerusakan juga disebabkan oleh trauma mekanis terutama kelahiran yang sulit.
6) Faktor lingkungan. Penelitian yang dilakukan untuk membuktikan hal ini adalah temuan Patton dam Polloway (1986;188) bahwa bermacam-macam pengalaman negative atau kegagalan dalam melakukan interaksi yang terjadi selama periode perkmebangan menjadi slah satu penyebab ketunagrahitaan. Studi yang dilakukan Kirk (Triman Prasadio, social ekonominya rendah menunjukkan kecenderungan mempertahankan mentalnya pada taraf yang sama bahkan prestasi belajarnya semakin berkurang dengan menikatnya usia. Latar belakang pendidikan orang tua juga sering dihubungkan dengan maslah-masalah perkembangan. Kurangnya kesadaran oaring tua akan pentingnya pendidikan dini serta kurangnya pengetahuan dalam memberikan rangsang positif dalam masa perkembangan anak menjadi salah satu penyebab timbulnya gangguan dan akibatnya kan menimbulkan hambatan dalam perkembangan intelejensia sehingga dapat berkembang menjadi anak retardasi mental.
Ciri-ciri anak-anak tunagrahita. Anak-anak cacat mental berbeda dari anak-anak lain dalam aspek sebagai berikut :
• Proses Kognitif: terbatas dab menghambat prestasi dalam bidang akademis
• Pemerolehan dan penggunaan bahasa: kurang benar dalam hal struktur dan maknanya
• Kemampuan fisik dan motorik : termasuk penglihatan dan pendengaran serta penggunaan motorik ringan
• Ciri-ciri pribadi dan social: kurang daya konsentrasi, bermasalah dalam tingkah laku.

II.3. PENCEGAHAN TUNA GRAHITA
Dengan ditemukannya berbagai penyakit ketunagrahitaan sebagai hasil penyelidikan oleh para ahli, seyogyanya diikuti dengan berbagai upaya pencegahannya.
Berbagai alternative upaya pencegahan yang disarankan, anatara lain sebagai berikut:
1. Penyuluhan genetic, yaitu suatu usaha mengkomunikasikan berbagai informasi mengenai masalah genetika. Penyuluhan ini dapat dilakukan melalui media cetak dan elektronik atau secara langsung melalui posyandu dan klinik.
2. Diagnostik prenatal, yaitu usaha pemeriksaan kehamilan sehingga dapat diketahui lebih dini apakah janin mengalami kelainan.
3. Imunisasi, dilakukan terhadap ibu hamil maupun anak balita. Dengan imunisasi ini dapat dicegah penyakit yang menggangguperkembangan bayi/anak.
4. Tes darah, dilakukan terhadap pasangan yang akan menikah untuk menghindari kemungkinan menurunkan benih-benih kelainan.
5. Melalui program keluarga berencana, pasangan suami istri dapat mengatur kahamilan dan menciptakan keluarga yang sejahtera baik fisik dan psikis.
6. Tindakan operasi, hal ini dibutuhkan bila ada kelahiran dengan resiko tinggi, misalnya kekurangan oksigen, adanya trauma pada masa prenatal (proses kelahiran).
7. Sanitasi lingkungan, yaitu mengupayakan terciptanya lingkungan yang baik sehingga tidak menghambat perkembangan bayi/anak.
8. Pemeliharaan kesehatan, terutama pada ibu hamil yang menyangkut pemeriksaan kesehatan selama hamil, penyediaan vitamin, menghindari radiasi dan sebagainya.
9. Intervensi dini, dibutuhkan oleh para orang tua agar dapat membantu perkembangan anaknya secara dini.

BAB III
III. PENANGANAN TUNA GRAHITA
Guru memegang peranan penting dalam pendidikan khusus untuk berbagai jenis ketidak mampuan termasuk termasuk tunagrahita.Peran apapun yang dimainkan, guru pendidikan khusu berhadapan dengan situasi yang membutuhkan mereka untuk membuat keputusan dan rencana pendidikan untuk murid mereka, termasuk penilaian.Terdapat banyak kasus dimana murid tidka diketahui secara pasti kecacatan yang dialaminya dan sering dianggap sebagai murid yang gagal dalam pembelajaran karena bodoh, malas dan sebagainya. Maka ujian pengenalan harus dilakukan agar dapat diketahui dengan baik masalah yang sebenarnya yang menyebabkan murid tersebut tidak mencapai tujuan pembelajaran.
Pelaksanaan uji pengenalan bukanlah hal yang mudah karena menuntut guru untuk memiliki kemampuan untuk melakukan uji tersebut. Contohnya guru harus memiliki pengetahuan dan keahlian dalam meniai untuk menentukan ketidakmampuan murid luar biasa seperti berikut:
• Pengumpulan data: Proses mengumpulkan informasi dari berbagai sumber mengenai murid, seperti rapor sekolah yang ada, sikap dan atensi, informasi dari orang tua dan laporan guru.
• Analisis : Analisis untuk latar belakang anak-anak dari segi pendidikan, social, lingkungan, catatan medis, emosi dan pertubuhan, serta perkembangan.
• Penilaian: Menilai murid dari segi perkembangan akademik, intelektual, psikologis, emosi, persepsi, bahasa, kognitif, dan pengobatan untuk menentukan kelebihan dan kekurangannya.
• Penentuan: Menentukan ketidakmampuan atau tingkat kecacatan murid berdasarkan cirri-ciri untuk setiap kategori.
• Rencana: Merencanakan program pendidikan yang sesuai untuk murid dengan menyerahkaannya kepada orang tua.
Penilaian dan uji pengenalan adalah proses yang kompleks yang membutuhkan banyak cara untuk mengumpulkan informasi mengenai murid. Proses mengumpukan informasi membutuhkan perhatian terhadap interaksi murid dengan orang tua, guru, dan teman-temannya; berbicara dengan murid dan mereka yang memiliki hubungan dekat dengannya; meneliti rapor sekolah dan catatan penilaian yang pernah dilakukan; menilai latar belakang perkembangan dan catatan medis; menggunakan informasi berdasarkan kumpulan pengamatan dari orang tua atau guru; menilai kebutuhan dan penilaian kurikulum; menilai jenis dan tahap pembelajaran murid di saat waktu tertentu; menggunakan analisis tugas untuk mengetahui komponen yang dikuasai dan kemampuan yang belum dikuasai; dan mengumpulkan skala mengenai sikap guru terhadap murid, penerimaan teman sebaya dan kelasnya.
Pengumpulan informasi mengenai murid dengan menggunakan berbagai metode dan sumber informasi harus memberika gambaran tentang kelebihan dan kebutuhan murid, kecacatan yang ada padanya, dan dampak terhadap pencapaian pembelajarannya. Tujuan yang realistis dan sesuai harus ditentukan untuk murid tersebut.
Selain itu, untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunagrahita sebaiknya dikembangkan pendidikan inklusif di setiap sekolah. Pendidikan inklusif sesungguhnya memiliki tujuan mulia antara lain memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan social, potensi kecerdasan serta bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya dan juga untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.
Pendidikan inklusif merupakan salah satu kebijakan pemerintah untuk perluasan akses dan peningkatan mutu pendidikan bagi semua anak yang mengalami kelainan fisik, mental, social, maupun kombinasi dari ketiga aspek tersebut dan memiliki masalah dalam hal komunikasi, sensor motorik, belajar, dan tingkah lakunya untuk mengikuti kegiatan belajar secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya.
Pembelajaran dalam mewujudkan pendidikan inklusif bias dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya:
• Pertama, membangun lingkungan belajar yang stimulatif, sportif, serta ramah terhadap ragam potensi kecerdasan anak.
• Kedua, mengembangkan kegiatan belajar yang aktif,kreatif,efektif, dan menyenangkan sesuai dengan kebutuhan anak.
• Ketiga, merancang kegiatan belajar yang memfungsikan seluruh modus berfikir otak seperti memori, kognisi, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi.
• Keempat, mengembangkan program dan kegiatan belajar yang mendorong berkembangnya sikap dan cara berfikir kreatif.
• Kelima, membangun pola interaksi social di sekolah antara guru dan murid, murid dan murid, guru dan guru, guru dan orang tua yang mendorong perkembangan semua anak secara optimal.
• Keenam, menciptakan lingkungan sekolah sebagai taman belajar.
• Ketujuh, mengembangkan kegiatan belajar yang mampu membangun karakter positif anak sehingga anak memiliki semangat belajar untuk maju dan berkembang
• Kedelapan, membangun kegiatan belajar yang mampu mengembangkan ragam potensi kecerdasan anak baik segi intelektual, social-emosional, fisikal maupun kecerdasan spiritualnya.
Kedelapan aspek diatas sangat membantu anak-anak tunagrahita sehingga mereka bisa tidak dianggap berbeda dan diterima oleh masyarakat serta tidak diperlakukan secara khusus dan bisa berkembang dan berprestasi seperti anak-anak normal lainnya.

BAB IV
IV.KESIMPULAN
Tuna grahita merupakan keterlambatan fungsi kecerdasan secara umum dibawah usia kronologisnya secara meyakinkan sehingga membutuhkan layanan pendidikan khusus.
Seseorang dikatakan tunagrahita apabila memiliki 3 hal, yaitu keterhambatan fungsi kecerdasan secara umum di bawah rata-rata, disertai ketidakmampuan adaptif, dan terjadi selama periode perkembangan (sampai usia 18 tahun).
Tunagrahita dapat disebabkan oleh factor keturunan dan bukan keturunan. Faktor keturunan kerusakan pada sel keturunan, seperti kerusakan kromosom, gen, dan salah satu atau kedua orang tua menderita kelainan atau hanya sebagai pembawa sifat.
Faktor di luar sel keturunan, diantaranya karena factor kekurangan gizi, kecelakaan (trauma kepala), dan gangguan metabolisme.
Tunagrahita terbagi menjadi 4 bagian :
1. Tunagrahita ringan -skor IQ 50 hingga 75
2. Tunagrahita sedang-skor IQ 30 hingga 50
3. Tunagrahita serius- skor IQ 30 ke bawah
Anak tunagrahita memang memiliki kemampuan terbatas,namun mereka masih memiliki harapan dengan melalui pelatihan dan bimbingan juga kesempatan dan dukungan agar mereka mengembangkan potensi-potensinya sehingga mampu membantu dirinya sendiri dan memiliki harga diri seperti orang-orang normal lainnya.
Intinya adalah agar anak dapat memfungsikan potensi-potensi yang masih ada dalam dirinya terutama agar dia bisa menjalani hidup yang bermartabat.
Selain itu, untuk penanganan anak-anak berkebutuhan khusus seperti tunagrahita sebaiknya dikembangkan pendidikan inklusif di setiap sekolah. Pendidikan inklusif sesungguhnya memiliki tujuan mulia antara lain memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan social, potensi kecerdasan serta bakat istimewa untuk memperoleh pendidikan yang bermutu sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya dan juga untuk mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik.



















DAFTAR PUSTAKA
Muhammad,K.A Jamila,2008,”Special Education For Special Children”
Indri-Ima-Indah,Majalah Paras,2007, “ Tak Ada Yang Tak Bernilai”,”Dunia Masih Belum Milik Kami”,”Selalu Ada Keistimewaan Dibalik Kekhususan Yang Ada”
Wardani ,I.G.A.K; Hernawati,Tati; Astati, “Pengantar Pendidikan Luar Biasa”, UT
Wikipedia
Dodi Cahyana; Mengembangkan Pendidikan inklusif di setiap sekolah, Pikiran Rakyat; 31 Mei 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar