Rabu, 26 Oktober 2011

PERILAKU MENANTANG PADA ANAK USIA 2 TAHUN

BAB I
I.1 PENDAHULUAN
Berkaitan dengan tumbuh kembang motoriknya, keterampilan baru anak di tahun ke 2 usianya yang utama ialah : dapat berdiri sendiri, berjalan tanpa dibantu, dan makan sendiri. Ketrampilan-ketrampilan yang menjadi tonggak baru tumbuh kembangnya turut mempengaruhi tumbuh kembang motorik halus, kognitif dan bahasa serta emosi dan sosialnya, sehingga semua masalah yang kemudian muncul dalam berbagai aspek tadi saling berkaitan, dan penyelesaiannyapun harus dilihat secara menyeluruh.
Memasuki tahun 2 usianya, anak sudah menjajaki tahapan baru dalam perkembangan kemampuan emosi dan sosialnya.Seperti anak berusia sekitar 5 bulan yang mengalami naik turunnya emosi ,suasana hati anak usia 1 sampai 2 tahun kini juga bergejolak.Kadang kadang merasa senang,tapi tak jarang pula ia merasa sedih dan menangis.Tapi,di usia ini tangisnya tak sepanjang tangis ketika ia masih bayi .Ia sekarang juga lebih tertarik pada teman sebayanya.Saat ini ia pun dapat merasakan hal hal yang disukainya.Anak usia kurang lebih 1 tahun sudah dapat menolak tangan pengasuh yang kotor.Ia pun sudah bisa memilih baju favoritnya.Ketika memasuki usia sekitar 18 bulan ia memiliki gambaran prilaku yang lebih mirip anak usia 2 tahun.Ia sering berada dalam’situasi antara’,senang dan takut ,antara tertawa dan menangis ,atau antara berhasil atau frustasi.Sekarang ia tak lagi memandang apa yang ada di dunia ini sebagai miliknya seorang.Ia sudah mulai siap berbagi dengan teman sebayanya.Ketika memasuki usia sekitar 21 bulan,ia mulai berusaha mengendalikan emosi negatifnya.Namun pada saat bersamaan,ia juga menjadi peruntut berusaha untuk mengendalikan situasi,dan mulai memahami nilai nilai yang diyakini orang tuanya.Di usia 2 tahun,anak umumnya bersikap menentang,tetapi sekaligus bisa merasa bersalah.Sejalan dengan berkembangnya kemampuan verbalnya ,ia sudah dapat menanggapi suasana hati oranglain berbagai kejutan akan muncul di masa ini.Meski tak mudah,namun masalah perilaku anak usia 1 sampai 2 tahun ini selalu dapat diatasi.
I.2 KARAKTERISTIK ANAK USIA 2 TAHUN
Perkembangan anak usia 2 – 3 tahun ditandai dengan beberapa tahap kemampuan yang dapat dicapai anak, yaitu sebagai berikut :
1. Berpikir simbolik. Anak usia 2 tahunan memiliki kemampuan untuk menggunakan simbol berupa kata-kata, gambaran mental atau aksi yang mewakili sesuatu. Salah satu bentuk lain dari berpikir simbolik adalah fantasi, sesuatu yang dapat digunakan anak ketika bermain. Mendekati usia ketiga, kemampuan anak semakin kompleks, dimana anak sudah mulai menggunakan obyek subtitusi dari benda sesungguhnya. Misalnya anak menyusun bantal- bantal sehingga menyerupai mobil dan dianggapnya sebagai mobil balap.
2. Mengelompokkan, mengurut dan menghitung. Pada tahun ketiganya, anak sudah dapat mengelompokkan mainannya berdasarkan bentuk, misalnya membedakan kelompok mainan mobil-mobilan dengan boneka binatang. Selain mengelompokkan, anak juga mampu menyusun balok sesuai urutan besarnya dan mengetahui perbedaan antara satu dengan beberapa (kemampuan menghitung).
3. Meningkatnya kemampuan mengingat. Kemampuan mengingat anak akan meningkat pada usia 8 bulan hingga 3 tahun. Sekitar usia 2 tahun, anak dapat mengingat kembali kejadian-kejadian menyenangkan yang terjadi beberapa bulan sebelumnya. Mereka juga dapat memahami dan mengingat dua perintah sederhana yang disampaikan bersama-sama. Memasuki usia 2,5 hingga 3 tahun, anak mampu menyebutkan kembali kata-kata yang terdapat pada satu atau dua lagu pengantar tidur.
4. Berkembangnya pemahaman konsep. Ketika mencapai usia 18 bulan, anak memahami waktu untuk pertama kalinya yaitu pemahaman “sebelum” dan “sesudah”. Selanjutnya pemahaman “hari ini”. Pada usia 2,5 tahun, anak mulai memahami pengertian “besok”, disusul dengan “kemarin” dan pengertian hari-hari selama seminggu di usia 3 tahun.
5. Puncak perkembangan bicara dan bahasa. Pada usia sekitar 36 bulan, perbendaharaan kata anak dapat mencapai 1000 kata dengan 80% kata-kata tersebut dapat dipahaminya. Pada usia ini biasanya anak mulai banyak berbicara mengenai orang-orang di sekelilingnya, terutama ayah, ibu dan anggota keluarga lainnya.












BAB II
II.1 ANAK BERPRILAKU MEMBANGKANG
“Kesalahan terbesar kita adalah menganggap bahwa sikap kasar hanyalah fase yang akan berlalu dengan sendirinya,” kata Michelle Borba, PhD, penasihat Parents sekaligus penulis Don’t Give Me That Attitude: 24 Rude, Selfish, Insensitive Things Kids Do and How to Stop Them. Strategi berdasarkan usia yang kami berikan akan membantu Anda tenang menghadapi sikap bandel ini dan membantu anak untuk mulai bersikap hormat.
Terbentuknya proses anak membangkang bisa kita lihat dari skema sebagai berikut:

Seringkali kita menghadapi perilaku anak yang diluar kebiasaan, seperti menampilkan agresi, menggigit, memukul, rengekan yang berlebihan, mengamuk dan perilaku-perilaku yang diluar kendali. Banyak sekali yang mengatakan hal tersebut disebut sebagai perilaku buruk atau perilaku menyimpang, dan sepertinya perilaku seperti ini lebih tepat disebut perilaku membangkang (challenging behavior) karena banyak factor internal dan factor eksternal yang mempengaruhinya.
Menghadapi perilaku anak yang membangkang ternyata selama ini seringkali salah dalam bertindak, karena secara tidak sadar apa yang kita lakukan sebenarnya bukan merespon terhadap penyebab sebenarnya dari perilaku anak melainkan reaksi yang dilandasi oleh emosi dan ketidak mau tahuan terhadap apa yang terjadi. Salah satunya reaksi orang tua sedang capek atau emosi tinggi, seringkali tidak memahami mengapa anak kita melakukan perilaku membangkang atau diluar kebiasaan.
Tiga alasan perilaku anak di luar kebiasaan berikut 3 alasan perilaku membangkang pada anak kita. Pahami betul dan berikan respon sesuai dengan penyebabnya:
1. Anak memiliki kebutuhan yang sah yang tidak terpenuhi, seperti makanan, air, perhatian, kedekatan, rasa memiliki, rasa hormat, istirahat, kasih sayang, latihan, stimulasi,belajar dll.
2. Anak tidak memiliki cukup informasi atau pemahaman tentang situasi. Dia mungkin terlalu muda untuk memahami atau ingat aturan. Oleh karena itu ia mungkin membutuhkan lebih banyak komunikasi atau pendidikan tentang hal itu.
3. Anak mungkin memiliki akumulasi stress dari masa lalu, dan karena itu tidak mampu berpikir jernih. Dia mungkin mengalami emosi yang kuat, ia mungkin takut, marah, kecewa, tidak aman dll.
Tanyakan pada diri sendiri tiga pertanyaan di atas agar membebaskan diri anda dari model pengasuhan yang reaktif dan merespon lebih cerdas dan elegan untuk anak anda dengan memahami alasan sebenarnya mengapa ia menunjukkan perilaku membangkang. Dengan demikian kita akan bisa merespon sesuai dengan kebutuhan anak kita.
Dan sekarang apa tugas kita sebagai seorang guru pada anak didiknya apa sudah terlaksana dengan baik? Atau kita menjadi sasaran yang disalahkan oleh orang tua dengan sikap anaknya? Karena percaya atau tidak sekarang ini banyak sekali orang tua yang menyalahkan guru ataupun lingkungan sekolah sebagai penyebab kenakalan anaknya, padahal survei yang terjadi dan secara tidak disadari itu semua akibat kelalaian orang tua itu sendiri. Contohnya kejadian yang seorang batita laki-laki bernama Gilang yang kesehariannya selalu ikut ke tempat kerja ayahnya yang notabene adalah tukang pangkas rambut khusus laki-laki, menghisap puntung-puntung rokok dan juga sisa rokok orang dewasa. Ayah Gilang sempat melihat perilaku itu tapi hanya melihatnya saja tidak melarang ataupun kaget, karena menurut sang ayah itu hal biasa terjadi dan sudah menjadi biasa.
Sebenarnya usia dini adalah usia yang sangat penting bagi perkembangan anak, sehingga disebut “golden age”. Perkembangan AUD dimulai sejak prenatal. Saat itu, perkembangan otak (pusat kecerdasan) sangat pesat. Setelah lahir, sel-sel otak mengalami eliminasi dan membentuk jalinan yang kompleks, sehingga nantinya anak bisa berfikir logis dan rasional. Organ sensoris (pendengaran, peglihatan, penciuman, pengecap, perabaan), dan organ keseimbangan juga berkembang. (Black, J.et.all.1995;Gesell, A.L & Ames,F,1940).
Menurut para ahli di bidang neurologi, ukuran otak anak usia 2 tahun mencapai 75% dari ukuran otak orang dewasa. Pada usia 5 tahun, perkembangan otak telah mencapai 90 % dari ukuran otak orang dewasa (Santrock,J.W,2002). Berarti pada usia dini (bahkan sejal dalam kandungan) terjadi perkembangan otak , kecerdasan dan kemampuan belajar anak yang signifikan.
Hail penelitian di bidang psikologi, kondisi kehidupan awal memiliki pengaruh perilaku pada usia dewasa. Perilaku ini dapat bersifat positif maupun negative, yaitu berupa perilaku prososial maupun anti social. (Oslen,SF dan Maertin,P,1999;Saltaris,et all 2004;Karr-Mose & Wiley,1997 dalam Young,2002).
Hasil studi para ahli gizi, pembentukan kecerdasan semasa dalam kandungan dan usia dini sangat tergantung pada asupan gizi. Makin tinggi kualitas asupan gizi, makin tinggi pula status kesehatan anak. Tinggi rendahnya status kesehatan anak berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kemampuan belajar.
Hasil penelitian di bidang pendidikan, ketelibatan orang tua dalam memberikan alat permainan yang sesuai dengan usia anak, dan pemberian stimulasi yang bervariasi dalam aktivitas keseharian, menjadi predictor terhadap perkembangan IQ anak (Shaver, David R, 1993). Ketidakharmonisan dalam keluarga, sikap dingin, penolakan kehadiran anak, dan pemberian hukuman yang tidak sesuai berpengaruh terhadap perkembagan perilaku menyimpang (Young,2002; Shaver dan David R, 1993)
Dari segi fisiologi dan psikologis, menyatakan “tidak” atau “tidak mau” sambil menggelengkan kepala, ternyata dianggap lebih mudah dilakukan oleh anak 1-2 tahun. Meskipun sebetulnya, kata “ya” atau “mau” telah mampu diucapkannya. Masalahnya, kata “tidak” dan “tidak mau” memberi anak sedikit celah untuk menyatakan identitas diri yang baru mereka temukan di periode ini. Untuk membedakan dirinya sekarang ini dengan masa bayi, kata-kata yang bersifat menentang dan berlawanan dengan yang dikatakan orang tua atau pengasuh (negativistik) semacam ini menunjukkan bahwa ia kini menjadi individu terpisah dari orang tuanya.
Dengan mengatakan “tidak” berulang kali, anak sedang melatih kemandirian serta menguji otoritas anda. Para peneliti yakin bahwa perilaku melanggar aturan merupakan sebuah cara untuk membuktikan eksistensi diri. Anak di tahun kedua usianya ini tidak peduli larangan anda agar, misalnya, tidak menyentuh apapun yang ada di kiri kanannya ketika anda berdua sedang berada di pasar swalayan.Baginya, tidak penting bagaimana perasaan orang tua saat ia melanggar larangan itu.
Alison Gopnik, psikolog tumbuh kembang anak dari University of California, Berkeley, Amerika Serikat berpendapat, anak usia 2 tahun sudah paham bahwa dua orang dapat memiliki perasaan berbeda terhadap benda yang sama. Anak akan secara sengaja melakukan sesuatu yang tidak diinginkan oleh orang tuanya dan mengamati reaksi mereka. Namun, tidak semua pelanggaran aturan oleh anak usia ini didasari oleh rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, usia 2 tahun merupakan usia ini didasari oleh rasa ingin tahu. Oleh sebab itu, usia 2 tahun merupakan usia yang tepat untuk menjelaskan secara lengkap alasan dan perasaan kita melarang atau membolehkan anak melakukan sesuatu.
Hal lain yang mendorong sikap membangkang adalah, anak usia 2 tahun juga berada pada masa mulai mengumumkan identitas dirinya. Dengan demikian Mark Wohlraich, pengajar kesehatan anak pada Universitas Vanderbilt, Amerika Serikat.
Seringkali anak usia 2 tahun mengatakan”tidak” meskipun sebelumnya ia tidak ingin mengatakannya. Keadaan ini merupakan bagian dari tahap tumbuh kembang anak. Namun, bukan berarti orang tua tidak perlu memberikan reaksi yang semestinya dan diperlukan demi pembentukan kepribadian anak.
Perlu diingat, penolakan atau pertentangan yang ditunjukkan anak di usia awal tahun keduanya tidak ditujukan kepada anak. Semua anak akan melalui fase tumbuh kembang yang disebut negativistik ini. Masa ini merupakan fase penting dalam pembentukan ekspresi diri, dan merupakan bagian mendasar bagi pembentukan ego (keakuan) serta langkah penting dalam membentuk kepribadiannya.
Ada anak yang mengalami masa ini singkat saja, tapi juga ada anak yang mengalaminya lebih lama. Bahkan pada anak yang lahir membawa sifat pemarah, sifat pemarahnya bisa menetap lebih lama. Jika anak usia ini terus menerus mengatakan”tidak” terhadap apa saja yang ditawarkan padanya, cobalah memberi lebih banyak pilihan. Misalnya, jika kita bermaksud menyuruhnya mencuci tangan, kita bisa mengatakan: “ Kamu mau pakai sabun bebek atau sabun kelinci?” Pilihan ini menyebabkan anak merasa benar-benar memegang kendali. Hal lain yang dapat dilakukan orang tua adalah mengurangi penggunaa kata “tidak” dalam percakapan dan jangan menertawakan kata “tidak” yang diucapkan anak.
Jika anak usia 18 sampai 24 bulan masih terus menentang dan melanggar aturan. Anda tak perlu putus asa mencari strategi. Menentang merupakan suatu tugas dalam proses tumbuh kembang anak usia 1 sampai 2 tahun. Tugas kita adalah menentukan batasan yang masuk akal untuk anak, dan mulai memperkenalkan anak pada aturan bersosialisasi, berupa disiplin.
Awalnya, si kecil berpikir atau memandang sesuatu dari sudut pandangnya sendiri. Biasanya mulai terjadi pada usia 1-2 tahun. Tahap ini disebut egosentris. Jadi, jangan harapkan anak usia ini berempati pada orang lain, karena mereka masih bersifat self oriented (berpusat pada dirinya sendiri), yaitu apa-apa dikembalikan pada dirinya diukur menurut ukurannya sendiri.
Wajarlah, karena perkembangan kognitifnya pun masih pada tahap berpikir satu arah.Dia belum bisa melihat dari sudut pandang orang lain. Namun lama-lama pola pikir ini akan berkurang sendiri.
Sebenarnya perilaku anak yang suka melanggar norma tersebut dipelajari secara terpaksa/tidak sengaja, sebagai cara untuk menunjukkan kontrol anak terhadap perilaku orang tua mereka. Perilaku pembangkangan pada anak memang tidak dapat lepas dari cara orang tua memperlakukan anaknya. Pembentukan perilaku-perilaku pembangkangan oleh anak tersebut terjadi dalam beberapa cara, antara lain:
Pertama. Orang tua memberikan penguat negatif (negative reinforcer; yang justru befungsi memperkuat respon) kepada anak agar ia menghentikan respon negatif akibat adanya stimulus eversif (tidak menyenangkan) yang diberikan orang tua sebelumnya. Keadaan semacam ini disebut “perangkap akibat penguat negatif” (negative reinforcer trap).
Contoh: Orang tua menyuruh anaknya membuang sampah, anak menolak dengan cara menunjukkan temper tantrum (kemarahan yang meledak-ledak, menolak dengan menjerit-jerit), orang tua manarik perintahnya. Maka anak akan mempelajari perilaku membangkang tersebut, kapan-kapan ia akan mengulangi perilaku yang sama untuk melawan perintah orang tua, yaitu dengan cara temper tantrum.
Contoh lain: ketika berada di tempat perbelanjaan anak melihat ada mainan yang disukainya, ia merengek-rengek kepada ibunya minta dibelikan. Ibunya merasa tak tahan dengan rengekan anaknya dan malu pada orang lain bila anaknya terus-menerus merengek, akhirnya ia mengabulkan permintaan anaknya. Maka anak akan mempelajari perilaku merengek sebagai senjata untuk memaksa orang tuanya menuruti kehendaknya. Kapan-kapan kalau ia menginginkan sesuatu ia akan merengek-rengek agar mendapatkan yang ia inginkan.
Kedua. Terjadi akibat adanya penguat positif (positive reinforcer) yang diberikan oleh orang tua untuk mengatasi respon anak. Biasanya ini akibat pola-pola perhatian dari orang tua: mencari-cari alasan untuk menerima perilaku anak, berusaha memahami dengan cara mendiksusikan hal tersebut pada anak. Keadaan seperti ini disebut sebagai “perangkap penguat positif” (positive reinforcer trap).
Contoh: orang tua menyuruh anaknya mandi, anak menolak, dan ngambek, agar anak tidak ngambek dan bersedia mandi, orang tua merayu anak dengan berjanji akan membelikan sesuatu pada anak, misalnya makanan yang disukai. Maka anak akan mempelajari perilaku membangkang tersebut, kapan-kapan ia akan mengulangi perilaku yang sama untuk melawan perintah orang tua, yaitu dengan mengajukan syarat kepada orang tua.
Ketiga. Adanya ketidakselarasan dalam pengasuhan (inconsistant parenting). Keadaan ini terjadi sebagai akibat perbedaan standar dalam menilai perilaku anak dari orang-orang yang terlibat dalam pengasuhan. Seperti antara ibu dan ayah, atau kalau pengasuhan tersebut dipegang oleh kakek-nenek si anak, biasanya ketidak-selarasan terjadi antara orang tua dengan kakek-nenek. Pada umumnya standar orang tua lebih ketat bila dibanding dengan kakek-nenek. Pola pengasuhan kakek-nenek kepada cucunya cenderung permisif (serba membolehkan), karena rasa sayang yang lebih besar.
Contoh: anak berkelahi sampai melukai temannya karena berebut mainan, ayah marahinya dan menghukum anaknya dengan melarangnya bermain selama beberapa hari. Ibu tidak sepakat dengan keputusan ayah, justru membela dan memberikan kasih sayang kepada anaknya, kadang-kadang kalau ayah tidak ada, ia membiarkan anaknya keluar untuk bermain. Kalau demikian keadaannya, maka anak kapan-kapan akan melawan perintah atau hukuman ayahnya karena merasa memiliki pendukung, yaitu ibunya.
Jadi, untuk sementara pahami “keegoisan” si kecil ini. Jika ia merebut mainan teman, misal, tak perlu langsung menuduhnya sebagi anak yang mau menang sendiri. Umumnya anak melakukan itu karena merasa mainan temannya lebih menarik. Dan, karena ia masih berpikir egosentris , yang ada di pikirannya, “Aku ingin bermain bola dengan Rara sekarang! Jadi aku harus mengambil bola itu dari tangannya!”.
Alihkan saja perhatiannya dengan memberinya mainan lain yang kira-kira menarik perhatiannya. Bukankah sifat anak itu masih mudah dialihkan?
Membangkang tidak sama dengan anak yang melakukan kekasaran atau bersikap kasar. Membangkang, anak hanya menolak setiap apa yang diperintah atau disuruh orang tua atau orang yang lebih besar. Dalam hal ini, anak tidak melawan ataupun berbuat sesuatu yang menentang atau menyerang. Sikapnya hanya sekedar menolak untuk sesaat yang nantinya ia akan melakukan perintah itu.
Sikap ini akan menjadi tingkah laku kasar bila sikap membangkang anak diterjemahkan, dipersepsi atau diartikan oleh orang tua sebagai anak yang “tidak mau menurut”, “tidak sopan” atau “tidak patuh”. Karena dengan itu orang tua mulai meng-adakan penekanan dengan kalimat “harus” atau memaksakan anak untuk melakukan perintah itu, agar jangan menjadi kebiasaan atau keterusan.
Dengan paksaan dan penekanan ini, anak mulai mengadakan defensive (pertahanan diri) dari segala sesuatu yang datangnya dari luar, atau ia akan menyerang orang tua lebih dahulu sebelum sikap orang tua yang menekan dan memaksa tersebut tiba dalam kehidupannya. Sebelum terjadinya defensive ini, anak berusaha menerima dengan sifat kecurigaan terhadap segala perintah, ajakan yang tidak menyenangkan dan yang tidak disukainya.
Adanya kesempatan untuk melakukan tindakan kasar dan ketidaksopanan terhadap orang tua maupun pada orang di sekitarnya. Sikap kasar yang membuat orang lain merasa tidak nyaman atau merasa terganggu akan dijauhi orang lain, baik kita sebagai orang tua maupun orang di sekitar lingkungan rumah.
Seorang anak yang dibiarkan berperilaku kasar di rumah, tidak disangsikan lagi akan bersikap yang sama di luar rumah. Akibatnya ia tidak dihargai oleh teman-temannya dan masyarakat di mana ia berada. Di rumah, si anak tidak dipedulikan oleh orang tua yang sudah angkat tangan dalam menghadapinya. Di sekolah, ia sebagai seorang anak yang menyulitkan sehingga dihindari, baik oleh teman-teman maupun orang dewasa.
Karena stimulus (rangsangan) yang ada di lingkungan sekitar kita ,baik dari media masa maupun elektronik, serta teman-teman sebaya, maupun dorongan keinginan orang tua untuk anak baik dan menjadi orang, sehingga kita lupa siapa anak kita. Perbedaan yang terjadi antara kita sebagai orang tua dan anak yang menerima keinginan tersebut, maka akan timbul suatu sikap yang menyebabkan saling menguasai, baik orang tua menguasai anaknya maupun anak menguasai orang tuanya.
KIAT MENGENDALIKAN ANAK YANG SEDANG MEMBANGKANG
1. Jika dipanggil diam saja, perhatikan anak sedang apa? Mulailah dengan yang menyenangkan anak saat muncul pembangkangan. Setelah dia beralih pandang dengan kita baru sampaikan apa yang kita inginkan.
2. Usahakan untuk tidak memanggil atau melarang perbuatan anak dengan dua kali panggilan atau larangan, tunggu beberapa saat, jika tidak bisa, alihkan seperti point 1, kemudian sampaikan apa yang kita inginkan.
3. Ciptakan suasana yang menyenangkan setiap kali bersama dengan anak, dengan penuh reaksi dan respon positif yang dilakukan anak.
4. Tidak membicarakan kesalahan anak dengan berulang-ulang dalam suasana apapun.
5. Memberikan respon dengan reaksi yang positif setiap kali bertemu dengan anak-anak, meskipun masih di dalam rumah, misalnya baru keluar dari kamar dan bertemu dengan anak, maka sapalah dengan respon yang menyenangkan.
Agar tidak terjadi fenomena tersebut diatas, maka kita pahami apa yang dinamakan pembangkangan dan tingkah laku kasar, serta bagaimana mengendalikannya dengan kiat-kiat yang sangat sederhana ini. Rasanya tidak akan berhasil jika kita tidak benar-benar mempraktekkan bentuk pengendalian tingkah laku anak.Bagi orang tua yang mempunyai anak-anak yang dalam perkembangannya berjalan dengan baik, usahakan untuk tetap bertahan. Dan bagi anak-anak mereka yang sudah terlanjur tercipta tindakan penolakan dan penentangan, berusahalah dengan pengendalian ini, semoga masa depan anak-anak menjadi harapan orang tua dan semuanya.








BAB III
NEGATIVISTIK DAN PENANGANANNYA
III.1 NEGATIVISTIK
Di usia 2 tahun ke atas, si kecil mampu berespon secara emosional terhadap sesuatu yang salah atau menurutnya tak sesuai. Dia akan memperlihatkan rasa marah ketika ayah/ibu melarang bermain atau ngambek kalau tak dibelikan mainan serta melawan saat disuruh tidur. Tak heran jika periode ini disebut periode negativistic atau melawan dan melakukan hal-hal yang justru dilarangnya.
Hal ini erat kaitannya dengan kemauan anak untuk mandiri. Dia ingin menunjukkan pada orang lain bahwa dia bisa mandiri. Itu sebabnya bila dilarang, munculnya perilaku negativistic karena ia merasa kemampuannya untuk mandiri dipertanyakan atau dihalangi, “Kenapa aku tidak boleh naik tangga?” Padahal kan aku sudah bisa melakukannya sendiri!”.
Pada usia di atas 2 tahun, anak sering membangkang / tidak mau patuh. Saat makan tiba, anak terkadang bilang tidak mau, makanannya suka dilepeh atau dilempar, dsb. Ini disebut sikap negativistik. Sikap negativistik merupakan fase normal yang dilalui tiap anak usia balita. Sikap ini juga suatu bagian dari tahapan perkembangannya untuk menunjukkan keinginan untuk independent . Jadi, batita umumnya ditandai dengan “AKU”, artinya segala sesuatunya harus berasal dari AKU bukan dari orang lain; intinya power. Banyak orang tua yang tidak memahami hal ini, sehingga lantaran khawatir kecukupan gizi anak tidak terpenuhi, orang tua biasanya makin keras memaksa anaknya makan. Ada orang tua yang mengancam anaknya bahkan memukul. Cara-cara tersebut harus dihindari. Justru semakin anak pada usia ini dipaksa, justru akan makin melawan (sebagai wujud negativistiknya) . Realisasinya apalagi kalau bukan penolakan terhadap makanan. Bisa dimaklumi kalau ada orang yang sampai dewasa tidak makan (tidak doyan) nasi atau sama sekali tak menyentuh daging. Bisa jadi sewaktu masih kecil yang bersangkutan sempat mengalami trauma akibat perlakuan orang tuanya yang selalu memberinya makan secara paksa.
Sebisa mungkin kurangi kata – kata seperti “tidak boleh” atau “Jangan”. Biarkan ia melakukan sesuatu sejauh tak membahayakan dirinya. Tapi bukan berarti orang tua haram melarang. Biarkan ia melakukan sesuatu sejauh tak membahayakan dirinya. Asalkan ketika melarang,beri solusi lain pada anak.
Ada beberapa tips menyikapi sifat negativistik anak
(1) harus melihat situasi dan kondisi sebelum memberi perintah kepada anak, pastikan anak sanggup melaksanakannya. Sikap membangkang anak bisa direndam dengan selalu mengajaknya berkomunikasi aktif. Ajukan setiap peraturan dengan disertai penjelasan. "Kakak perlu mandi karena badan Kakak kan kotor habis main seharian." Komunikasi semacam itu akan menyurutkan sikap membangkang anak karena ia paham akan konsekuensi bila ia tak melakukan peraturan itu. Misalnya, "Kalau aku enggak mandi nanti badanku kotor. Itu kan berarti mengundang penyakit. “Wah, bisa-bisa nanti aku sakit, terus ga bisa main dong!”dalam melakukan cara guna membuat anak menuruti perintahnya, orang tua perlu mempertimbangkan kondisi anak dan mengambil cara yang paling ringan efek sampingnya,
(2) tidak perlu memupuk rasa kasihan dalam membebankan tugas tertentu pada anak dalam hal-hal yang dipastikan tidak akan membahayakan jiwa maupun fisik anak, seperti contoh di atas, memerintahkan anak membuang sampah. Selain itu penyamaan persepsi mengenai standar dalam mengasuh anak juga penting untuk dibicarakan antara ayah dan ibu, perlu ada kesepakatan mengenai apa yang boleh/baik/harus dilakukan dan yang mana yang tidak boleh, buruk dan harus ditinggalkan oleh anak.
(3) Konsisten terhadap aturan yang telah dibuat . Terapkan peraturan dengan jelas dan menetap, misalnya kalau sudah ditentukan tidur jam 8 malam, patuhi jadwal tersebut dari hari ke hari.

























BAB IV
KESIMPULAN

Disiplin yang keras tidak selamanya bermanfaat. Karena anak jadi agresif dan tampak seperti membangkang. Hal ini terjadi karena anak tidak dapat memahami maksud dibalik peringatan keras tersebut. Yang dipahami anak adalah orang tua telah berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan mereka.
Sebaiknya, larangan atau peringatan pada anak diiringi dengan penjelasan atau alasan yang masuk akal. Sehingga mereka paham apa yang kita maksud. Namun perhatikan cara penyampaiannya.
Sampaikan dengan kata-kata yang sederhana dan mudah dipahami. Berikan batasan apa yang boleh dan tidak. Serta sertakan apa akibat tindakan anak bila melakukan hal itu. Bisa juga dengan mencoba bernegosiasi dengan anak tentang apa yang bisa dilakukan sebagai ganti hal yang dilarang.
Cobalah hindari kalimat yang sifatnya mengancam atau berisi kritik. Hal yang penting adalah konsisten dengan yang dilakukan. Cara ini membuat anak belajar memahami apa yang diharapkan dari dirinya, sehingga ia mampu membentuk perilaku yang sesuai.

KIAT MENGENDALIKAN ANAK YANG SEDANG MEMBANGKANG
1. Jika dipanggil diam saja, perhatikan anak sedang apa? Mulailah dengan yang menyenangkan anak saat muncul pembangkangan. Setelah dia beralih pandang dengan kita baru sampaikan apa yang kita inginkan.
2. Usahakan untuk tidak memanggil atau melarang perbuatan anak dengan dua kali panggilan atau larangan, tunggu beberapa saat, jika tidak bisa, alihkan seperti point 1, kemudian sampaikan apa yang kita inginkan.

3. Ciptakan suasana yang menyenangkan setiap kali bersama dengan anak, dengan penuh reaksi dan respon positif yang dilakukan anak.
4. Tidak membicarakan kesalahan anak dengan berulang-ulang dalam suasana apapun.
5. Memberikan respon dengan reaksi yang positif setiap kali bertemu dengan anak-anak, meskipun masih di dalam rumah, misalnya baru keluar dari kamar dan bertemu dengan anak, maka sapalah dengan respon yang menyenangkan.




















DAFTAR PUSTAKA
Latifah,Melly,Karakteristik Perkembangan Anak 1-3 tahun,Multiply,2011
Wikipedia,
Balita & Masalah Perkembangannya, seri Majalah Ayah Bunda , 2001
Sentuhan Tiga Tahun Pertama, seri Majalah Nakita,2002
www.ayahbunda.co.id
Baraja, Abu Bakar,Drs,Psi,Tips Mengendalikan Tingkah laku Kasar Ana

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar